Monday, 13 July 2009

Mana yang Apel, Mana yang Bola

Assalamu'alaikum

Teman-teman, Azka mau ngajak bermain nih. Azka mau nanya, mana sih yang bola, dan mana yang apel

Hayo coba tebak ini apa??



Wuih teman-teman pinter, tadi yang diatas itu bukan apel tapi bola.

Nah sekarang yang ini apa hayo....



Subhanallah teman-teman pinter, yang itu tadi juga bola...

Nah kalau yang ini apa...



Betul sekali, ini adalah apel. (Penonton bertanya : Apa bedanya apel dan bola kok sama-sama dimaem sama Azka ?? :) )

Trus cara bedain apel dan bolanya gimana Azka??
Begini nih , kalau bola digigit sih paling cuma bocor. Nih lihat aja bolanya masih bagus kan



Nah kalau apel habis digigit jadi kayak gini nih...






Sunday, 5 July 2009

Selamat Memilih, Demi Indonesia Lebih Baik

Dua hari lagi saat yang menentukan masa depan negara kita akan tiba. Hari tenang selayaknya digunakan untuk semakin memantapkan pilihan . Bagi yang milih "Mega Pro", silakan. Bagi yang milih "Lanjutkan", monggo. Atau yang suka dengan "Lebih Cepat Lebih Baik" juga sah-sah saja.
Yang tidak tepat adalah dalam masa hari tenang ini masih sibuk kampanye, tebar pesona, atau malah black campaign, bahkan money politics. Maklum tingkat pendidikan dan ekonomi sebagian masyarakat yang menengah ke bawah menjadi sasaran empuk money politics.


Siapapun presiden yang terpilih, dirinya adalah profil masyarakat kita. Itu adalah pilihan masyarakat sendiri, dan akibatnya harus ditanggung masyarakat sendiri. Kalau kita pilih pemimpin yang cerdas, berarti rakyat kita cerdas. Kalau pilih pemimpin yang cepat, berarti rakyat kita sudah ingin maju. Kalau pilih yang partainya reformis, berarti rakyat sudah jenuh dengan partai lama yang identik dengan KKN. Kalau pilih yang taat agama, artinya rakyat takut pada Tuhannya. Kalau pilih yang gemar jual aset negara, berarti mereka rakyat yang mudah lupa. Kalau pilih yang senang masyarakat bodoh (tidak ada perhatian pada peningkatan kualitas pendidikan), berarti rakyat memang seneng jadi bodoh hehe, atau malah tidak tahu sedang dibodohi??.


Friday, 19 June 2009

Azka Mondok

Assalamu'alaikum. Sakit itu untuk mengurangi dosa. Tapi kalau Azka yang sakit, apakah untuk megurangi dosa :) Kan masih baby belum punya dosa. Hehe.

Mula-mula sih Azka tetep rutinitas di rumah. Santai santai sambil kayak gini nih.


Terus Azka kena batuk pilek. Beberapa hari kemudian Azka muntah dan diare. Mula-mula dibawa ke RS dekat rumah, disuruh rawat jalan. Karena masih muntah juga, akhirnya Azka dibawa ke Hermina Jatinegara. Disana diberi opsi rawat inap atau rawat jalan, akhirnya kita pilih rawat inap. Ee ternyata ruangannya kurang memungkinkan akhirnya kita pilih pulang aja. Keeseokan harinya tepatnya Subuh Azka masih muntah dan diare, akhirnya Azka kita bawa ke RS di Kuningan. Akhirnya rawat inap deh...



Alhamdulillah sekarang Azka sudah sehat kembali. Mari saling mendoakan agar kita semua selalu dikaruniai kesehatan ya.




Monday, 1 June 2009

RESEP AGAR HIDUP LEBIH BERMAKNA

Hari Ahad malam Senin kemarin, sembari menunggu di sebuah warung sate, saya mengirimkan pertanyaan via sms kepada beberapa teman dan saudara. Isi pertanyaannya :

Apa resep supaya hidup lebih bermakna?

Berikut sari jawabannya:

Adi Nugroho, Tuban :
“Tak pikir seweing yo ora nemu sing pas. Rumusanku hidup bermakna adalah mencoba semaksimal mungkin hidup sesuai yang diinginkan sang pemberi hidup”.

Dian Bayu, Jakarta :
”Secara teori untuk bisa hidup lebih bermakna maka ”Khoirunnas anfauhum linnas” (Al Hadits). Secara AA Gym pernah berkata jadilan manusia yang banyak memberi manfaat dunia dan akhirat bagi manusia. Kalo ana mah masih banyak kekurangan dan belum bisa mempraktekkan ini. Ana kurang faqih dibanding antum. Antum lagi nguji ane ya akhi? Hehehe”

Ery Adhityo, Bandung : “Rasanya enak dan mantap waktu denger kajian-kajian tentang Al-Qur’an/ hadist, muroja’ah, mabit, bergaul sama temen-temen yang sholeh, atau ikut kegiatan-kegiatan”.

Hafidz Kurniawan, Duri/ Riau :
“Sebenarnya kamu sudah tahu jawabnya. Kadang kita terlalu terlarut oleh pertanyaan aja”.

Semoga jawaban teman-teman di atas bermanfaat bagi kita dan dapat diambil hikmahnya.



Tuesday, 26 May 2009

Berburu Bekantan di Tarakan

Setelah berakhirnya tugas kantor di Tarakan (Kaltim) selama beberapa hari, saya dan tim menyempatkan diri mampir ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, yang letaknya tidak jauh dari Bandara Juata Tarakan. Tujuannya sih ingin melihat dari dekat kehidupan satwa yang dijadikan icon Dunia Fantasi itu.

Bandara Juata Tarakan :


Gerbang Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan



Menyusuri jalan yang terbuat dari susunan papan kayu


Ternyata populasi Bekantan tinggal sedikit saja


Sulit juga menemukan Bekantan, mungkin karena waktunya siang jadi Bekantan belum pulang kantor hehe. Nih untuk oleh-oleh ada foto patung Bekantan


Tuesday, 19 May 2009

JJS (Jalan Jalan Sore)

Assalamu'alaikum. Apa kabar semua. Semoga sehat-sehat ya. Azka mau ngajak jalan-jalan sore. Hmm, tapi masih masih ngantuk, bobok sebentar lagi ah...



Nah sekarang Azka sudah siap...Tapi inget, temen2 ndak boleh rewel ya..(loh kok malah kebalik Azka yang kasih nasehat)


Pandangan lurus ke depan...Mari kita jalan-jalan sambil belajar. Siapa tahu ada hal baru yang bisa dipelajari ama Azka


Eh ada kucing kecil, kasian ibunya dimana...kok sendirian. Eong..eong..


Ebi ngajak main kejar-kejaran, Abi lari-lari Azka kejar pakai stroller..hi hi Abi lucu jadi Azka ketawa deh


Hi hi jalan-jalan sorenya menyenangkan sekali..ada yang mau ikut...?






Thursday, 7 May 2009

"Tukar Nasib", Acara yang Ga Penting

Beberapa minggu terakhir ini muncul acara TV yang cukup unik, dengan judul Tukar Nasib. Alkisah dua keluarga dengan latar belakang ekonomi yang kontras, diberi kesempatan menukar status mereka. Mulai dari rumah dengan segala isinya, mobil, bahkan pekerjaan ikut ditukar.

Semisal seorang tukang kebun bertukar status dengan seorang direktur perusahaan. Maka semenjak hari itu si tukang kebun dan keluarganya akan menempati rumah sang direktur. Terlihat di Televisi bagaimana polos dan bingungnya mereka ketika dihadapkan dengan rumah megah, kasur empuk, bahkan mungkin kolam renang. Ada sebuah adegan (yang menurut saya dibuat-buat), si miskin bingung mendengar bunyi telepon, dan ketika mengangkat gagang telepon pun terbalik. Atau adegan si ibu dan anaknya yang clingak clinguk dengan suasana mewah yang tidak biasa mereka hadapi.

Di sisi lain, sang Direktur dan keluarganya akan menempati gubuk reyot milik si tukang kebun. Berlantaikan tanah, kasur bambu, nyamuk sliwer sana sini, dan ada kandang kambing di samping kamar. Si anak menangis karena tidak betah. Sehari-hari mereka berkebun, memelihara kambing, menyabit rumput dan aneka pekerjaan lain yang lumrah dilakukan di pedesaan.

Selama beberapa waktu mereka akan tinggal disana, sampai waktu yang ditentukan tiba dan mereka kembali akan "memiliki" rumah mewah mereka. Sedangkan si miskin akan "berhenti" dari kemewahan yang mereka nikmati beberapa saat dan kembali dengan segala kesusahan hidup yang telah menanti.

Menurut saya acara tersebut tidak mendidik. Program ini menjual kemiskinan, apa untungnya bagi penonton dengan melihat seorang miskin menikmati "kemewahan sesaat". Saya pribadi malah tidak tega menonton acara tersebut. Sama seperti acara lain yang mirip program tersebut, di mana seorang yang miskin diberi sejumlah uang yang banyak, kemudian dalam waktu singkat ia harus membelanjakan uangnya secepat mungkin. Kalau uang tidak habis berarti hangus. Maka ia berlari-lari dari toko ke toko membeli barang yang ia impikan.

Setelah usai bertukar nasib, bisa jadi keluarga si miskin (anak, istri) lupa bersyukur atas yang telah Allah berikan pada ayah/suaminya. "Seandainya ayahku direktur, seandainya suamiku memiliki harta banyak," dan pengandaian lain yang hanya memperpanjang angan-angan.

Boleh jadi maksud pemilik program ingin membuat si miskin menikmati yang namanya "menjadi kaya" walau sesaat. Namun menurut saya mudharat nya bagi si miskin dan keluarganya lebih besar lagi.

Mungkin yang cukup jadi penyeimbang adalah hikmah yang dapat dipetik keluarga si kaya, bahwasanya mereka harus mensyukuri nikmat berlebih yang telah diberikan pada mereka.